LEBIH MENGENAL
MUSEUM NEGERI LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU
sumberdaya sejarah dan budaya sangat penting untuk generasi mendatang, dalam rangka pembangunan bangsa yang besar dan maju dengan tanpa kehilangan identitas dan akar budayanya. Sumberdaya sejarah dan budaya merupakan sumberdaya yang tak ternilai harganya dan tak terbaharui (unrenewable) keberadaannya, sehingga harus dikelola secara baik dan benar. Pengelolaan sumberdaya sejarah dan budaya “yang baik” memiliki arti bahwa pengelolaannya akan membawa kemanfaatan yang besar bagi masyarakat luas, sedangkan pengelolaan “yang benar” memiliki arti bahwa pengelolaan tersebut harus dapat menjamin kelestariannya sebagai data yang dapat diakses sepanjang masa. Hal inilah yang mendorong berdirinya museum umum[1] di berbagai propinsi di Indonesia, demi pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya sejarah dan budaya.
Secara umum tugas dan fungsi museum adalah mengkomunikasikan serta mempublik asikan hasil-hasil penelitian ilmiah kepada umum, baik melalui media pameran, bimbingan edukatif kultural maupun media lainnya dalam pelestarian dan pemanfaatan bukti material manusia dan lingkungannya untuk ikut serta mengembangkan seni, ilmu dan teknologi dalam rangka peningkatan nilai budaya dan kecerdasan kehidupan bangsa. Dengan demikian informasi yang disajikan oleh museum haruslah betul-betul objektif.
Hal ini berkesesuaian dengan defenisi museum itu sendiri yaitu setiap badan tetap yang tidak mencari keuntungan, yang dalam melayani masyarakat terbuka untuk umum dan kegiatannya meliputi; mengumpulkan, merawat, meneliti, mengkaji, mengkomunikasikan, serta memamerkan bukti material manusia dan lingkungannya, untuk kepentingan studi dan rekreasi, (RUU Permuseuman Ps. 1 ayat huruf b).
Sejarah Museum :
Sejak direbutnya Constantinopel, Asia Kecil dan Yunani oleh Turki, jalur perdagangan Eropa dan Asia putus. Para pelayar Eropa berusaha mencari jalan laut menuju negeri Timur yang kaya rempah-rempah dan permata.
Sekembalinya dari daerah yang mereka kunjungi mereka juga membawa benda-benda budaya yang kemudian disimpan dalam Cabinet of Curiousities sebagai milik kebanggaan. Kemudian timbul gagasan untuk menghimpun Cabinet of Curiousities dalam MOUSEION (pura/tempat suci untuk memuja para dewa muse)
Kata MOUSEION inilah yang mencadi cikal bakal penyebutan Museum, yang dalam Bahasa Yunani Kuno berarti “pura” (tempat pemujaan) bagi para Muse. Para muse itu terdiri atas 9 orang. Mereka adalah puteri-puteri Dewa Zeus (Jupiter) dari isterinya yang bernama Mnemosyne. Kesembilan orang Muse itu adalah para Dewi Penguasa Ilmu Pengetahuan dan Seni, yang dipimpin oleh Apollo, putera Zeus dari isterinya yang bernama Letto
Sejarah Museum Di Kalimantan Selatan
Museum pertama yang didirikan di Kalimantan Selatan adalah Borneo Museum yang didirikan pada tahun 1907 di Banjarmasin. Mula-mula berlokasi di Swartpark (sekarang Kompleks Masjid Sabilal Muhtadin), kemudian dipindahkan ke Heeren Gracht (Jalan D.I. Panjaitan sekarang). Usia museum ini tidak berumur panjang, karena pada hari-hari terakhir pendudukan Jepang, koleksi museum ini jadi rebutan para penguasa ketika itu.
Museum yang kedua adalah Museum Kalimantan yang didirikan berkat kegigihan usaha para budayawan di daerah ini, yang antara lain dimotori oleh Alm. Amir Hasan Gelar Kyai Bodan Kejawan. Museum yang menggunakan Gedung Permufakatan Indonesia ini juga tidak berumur panjang. gedung itu terbakar habis.
Museum yang ketiga adalah Museum Banjar yang didirikan pada tahun 1967 dengan Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan No. 19/1-2-301-573, tanggal 8 Mei 1967 Untuk sementatra koleksi-nya disimpan pada sebuah bangunan rumah Alm. Abdul Ghafar Hanafiah di Jalan Haryano M.T. No 1 Banjarmasin yang disewa sebagai gedung sementara Museum Banjar itu. Pada tahun 1968 dipindahkan ke Balai Wartawan Jalan Jend. Sudirman Banjarmasin, dan selanjutkan ke Jalan A. Yani Km. 5,5 Banjarmasin.
Museum yang keempat adalah Museum Lambung Mangkurat, Lahirnya Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru memiliki riwayat yang panjang. Selain berkait secara kronologis dengan sejarah museum di Kalimantan Selatan yakni sejak Borneo Museum (1907), Museum Kalimantan (1955), Museum Banjar (1957) dan akhirnya Museum Lambung Mangkurat, keberadaannya berawal dari pemikiran cemerlang yang terlahir oleh keprihatinan terhadap kondisi sumberdaya sejarah dan budaya yang kita miliki, yang secara nyata agaknya kurang terurus.
Museum dan pendidikan, selama keduanya masih berfungsi ditengah-tengah masyarakat, maka peranannya akan tetap aktual dan terus diamati, dikaji untuk kemudian dapat disempurnakan. Antara museum dengan pendidikan memang tidak terdapat hubungan fungsional. Pendidikan sebagai proses sosialisasi dan proses pembudayaan orang-perorang telah berlaku sejak manusia itu lahir, hidup bermasyarakat dan berkebudayaan.
Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru
Memasuki pintu gerbang Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru ini, mata kita langsung dimanjakan dengan bangunan mewah yang mengadaptasi bentuk rumah tradisional banjar yaitu “Rumah Bubungan Tinggi” yang dipadu dengan gaya modern sebagai ruang pameran utama. Selanjutnya bangunan lain yaitu Ruang Pameran Temporer dan ruang pameran kain, keramik, lukisan bergaya eropa. Kantor Tata Usaha, ruang Kepala dan Perpustakaan bentuk atap pisang sasikat. Kantor tenaga teknis dan gudang koleksi dengan bangunan atap hidung bapicik[2]. Tentu saja memikat
Saat diresmikan pada tahun 1979, Museum Lambung Mangkurat memiliki bangunan seluas 2000 m2 yang dibangun di atas lahan seluas 15.000 m2. Fasilitas gedung tersebut terdiri dari : Gedung Induk Pameran Tetap dua lantai, Ruang Pameran Temporer, Kantor dan Rumah Dinas Kepala.
Sampai dengan Desember 2007, jumlah koleksi Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru mencapat 12.020 buah, Benda koleksi sejumlah tersebut harus terus menerus dikelola agar terjamin keamanannya baik dari ancaman kerusakan maupun kehilangan, baik kerusakan biotic (jamur, pelapukan, rayap) maupun kimiawi dan fisis akibat perubahan suhu, kontaminasi lingkungan mikro dan sebagainya.
Koleksi merupakan benda-benda bernilai sejarah, kebudayaan dan sejarah alam yang dikelola oleh museum untuk dipublikasikan kepada masyarakat luas baik langsung melalui pameran di museum maupun melalui media (cetak, elektronik, brosur dan buku). Pada awal berdirinya Museum Lambung Mangkurat, sebagian koleksinya berasal dari Museum Banjar yang masih tersisa, sebagian lain dari Direktorat Permuseuman dan sebagian lagi hasil pengadaan baru Museum Lambung Mangkurat. Jumlahnya saat itu sebanyak 5.253 buah dengan rincian :
|
- Prasejarah - Arkeologi - Numismatika/Heraldika - Keramologika - Sejarah - Naskah - Seni rupa modern - Seni kriya/kontemporer - Geografi - Astronomi - Geologi - Paleontologi/antropologi - Botani - Zoologi - Herbarium - Etnografi |
21 buah 61 buah 309 buah 449 buah 90 buah 111 buah 144 buah 507 buah 26 buah 15 buah 27 buah 19 buah 28 buah 16 buah 16 buah 3.193 buah |
|
Jumlah…………………… |
5.253 buah |
Sumber : Kasi Edukasi Preparasi Museum lambung Mangkurat Propinsi Kalimantan Selatan
Banjarbaru 2008
Sejak diresmikan pada tahun 1979 hingga saat ini (2008), Museum Lambung Mangkurat telah memberikan layanan informasi sejarah dan budaya Kalimantan Selatan kepada masyarakat luas, baik pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Jumlah kunjungan dari waktu ke waktu cenderung meningkat pada 15 tahun terakhir, yang dapat dilihat pada Tabel dan Grafik berikut ini :
Tabel Kunjungan Museum Negeri Lambung Mangkurat
Th 1990-2008
|
Tahun |
Jumlah Pengunjung |
|
1990/1991 |
8165 orang |
|
1991/1992 |
29200 orang |
|
1992/1993 |
27200 orang |
|
1993/1994 |
16946 orang |
|
19941995 |
12201 orang |
|
1995/1996 |
15690 orang |
|
1996/1997 |
19580 orang |
|
1997/1998 |
20000 orang |
|
1998/1999 |
17300 orang |
|
1999/2000 |
18048 orang |
|
2000/2001 |
13500 orang |
|
2001/2002 |
18287 orang |
|
2002/2003 |
21660 orang |
|
2003/2004 |
21406 orang |
|
2004/2005 |
29954 orang |
|
2005/2006 |
36114 orang |
|
2006/2007 |
49965 orang |
|
2007-2008 |
45500 orang |
Sumber : Kasi Edukasi Preparasi Museum lambung Mangkurat Propinsi Kalimantan Selatan Banjarbaru 2008
Peranan Museum Lambung Mangkurat Terhadap Pendidikan
Kota Banjarbaru menempatkan dirinya sebagai kota Pendidikan di Kalimantan Selatan, sebagai tempat yang comfortable untuk para pencari ilmu. Keberadaan sebuah museum di kota ini dapat memberikan informasi edukatif tentang sejarah dan kebudayaan lokal melalui koleksi yang ditampilkannya. Museum dapat pula menjadi sebuah lembaga pendidikan non formal yang dapat memainkan peranan positif dalam bidang pendidikan berkaitan dengan upaya pencerdasan bangsa dan “melek” budaya. Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru akhirnya memposisikan dirinya sebagai media tempat belajar dan rekreasi bagi masyarakat Kalimantan Selatan dan masyarakat Banjarbaru pada khususnya. Banyaknya kunjungan dari kalangan pelajar dan mahasiswa atau pun para pecinta sejarah dan budaya ke Museum Lambung Mangkurat ini menunjukkan adanya sifat memerlukan (defendensi) dari masyarakat terhadap keberadaan sebuah museum.
[1] Museum Umum adalah museum yang koleksinya meliputi benda-benda sejarah, budaya dan sejarah alam, sedangkan museum khusus adalah museum yang koleksinya terdiri satu jenis atau satu tema tertentu seperti Museum Tekstil, Museum Botani, Museum Purbakala dan sebagainya.
[2] Wawancara dengan Drs. Ikhlas Budi Prayogo, M. Hum (Kasi Edukasi Preparasi Museum lambung Mangkurat Propinsi Kalimantan Selatan Banjarbaru) 15 Mei 2008