Feeds:
Tulisan
Komentar

LEBIH MENGENAL

MUSEUM NEGERI LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU

sumberdaya sejarah dan budaya sangat penting untuk generasi mendatang, dalam rangka pembangunan bangsa yang besar dan maju dengan tanpa kehilangan identitas dan akar budayanya. Sumberdaya sejarah dan budaya merupakan sumberdaya yang tak ternilai harganya dan tak terbaharui (unrenewable) keberadaannya, sehingga harus dikelola secara baik dan benar. Pengelolaan sumberdaya sejarah dan budaya “yang baik” memiliki arti bahwa pengelolaannya akan membawa kemanfaatan yang besar bagi masyarakat luas, sedangkan pengelolaan “yang benar” memiliki arti bahwa pengelolaan tersebut harus dapat menjamin kelestariannya sebagai data yang dapat diakses sepanjang masa. Hal inilah yang mendorong berdirinya museum umum[1] di berbagai propinsi di Indonesia, demi pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya sejarah dan budaya.

Secara umum tugas dan fungsi museum adalah mengkomunikasikan serta mempublik asikan hasil-hasil penelitian ilmiah kepada umum, baik melalui media pameran, bimbingan edukatif kultural maupun media lainnya dalam pelestarian dan pemanfaatan bukti material manusia dan lingkungannya untuk ikut serta mengembangkan seni, ilmu dan teknologi dalam rangka peningkatan nilai budaya dan kecerdasan kehidupan bangsa. Dengan demikian informasi yang disajikan oleh museum haruslah betul-betul objektif.

Hal ini berkesesuaian dengan defenisi museum itu sendiri yaitu setiap badan tetap yang tidak mencari keuntungan, yang dalam melayani masyarakat terbuka untuk umum dan kegiatannya meliputi; mengumpulkan, merawat, meneliti, mengkaji, mengkomunikasikan, serta memamerkan bukti material manusia dan lingkungannya, untuk kepentingan studi dan rekreasi, (RUU Permuseuman Ps. 1 ayat huruf b).

Sejarah Museum : Lanjut Baca »

Membangun Kebudayaan Bangsa

Kebutuhan untuk membangun kebudayaan bangsa, bagi kita, sesungguhnya dimulai semenjak kita berhasil mendirikan satu negara-bangsa. Dalam kaitan ini, kearifan lokal yang terkandung dalam sistem seluruh budaya daerah atau etnis yang sudah lama hidup dan berkembang adalah menjadi unsur budaya bangsa yang harus dipelihara dan diupayakan untuk diintegrasikan menjadi budaya baru bangsa sendiri secara keseluruhan.

Pengembangan kearifan-kearifan lokal yang relevan dan kontekstual memiliki arti penting bagi berkembangnya suatu bangsa, terutama jika dilihat dari sudut ketahanan budaya, di samping juga mempunyai arti penting bagi identitas daerah itu sendiri. Koreografi, musik, dan sastra yang menempatkan nilai-nilai lokalnya sebagai sumber inspirasi kreatif, bagi daerah yang bersangkutan akan mendorong rasa kebanggaan akan budayanya dan sekaligus bangga terhadap daerahnya karena telah berperan serta dalam menyumbang pembangunan budaya bangsa. Karya-karya seni budaya, yang digali dan sumber-sumber lokal, jika ditampilkan dalam ‘wajah atau wacana keindonesiaan’ niscaya memiliki sumbangan yang sangat besar bagi terciptanya identitas baru keseluruhan bagi bangsa secara keseluruhan.

Kearifan lokal yang juga meniscayakan adanya muatan budaya masa lalu, dengan demikian, juga berfungsi untuk membangun kerinduan pada kehidupan nenek moyang, yang menjadi tonggak kehidupan masa sekarang. Dengan cara demikian, situasi sadar budaya dapat ditumbuhkan. Dengan cara demikian pula, kesadaran masyarakat terhadap sejarah pembentukan bangsa dapat ditumbuhkan. Anggapan bahwa yang relevan dengan kehidupan hanyalah masa kini dan disini, juga dapat dihindari. Kearifan lokal dapat dijadikan jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa sekarang, generasi nenek moyang dan generasi sekarang, demi menyiapkan masa depan dan generasi mendatang. Pada gilirannya, kearifan lokal pun dapat dijadikan semacam simpai perekat dan pemersatu antar generasi.

Nang kaya apa manurut andika…?

banjar bahasaku

eksistensi suatu bangsa ditandai oleh bahasa nya

ungkapan ini seharusnya menjadi cambuk bagi kita urang banjar untuk selalu menjaga dan memelihara bahasa banjar banjar sebagai manifestasi dari upaya mempertahankan identitas diri yang utama bagi suku atau etnis banjar.

Kalau seumpamanya bahasa banjar itu sudah tidak terpakai lagi dalam tata pergaulan sesama urang banjar, karena urang banjar sendiri enggan atau malu menggunakannya dan tergantikan oleh sebuah bahasa lain (bahasa apapun itu), itu berarti pada saat itu eksistensi urang banjar sebagai suatu suku bangsa juga sudah tidak ada lagi dan terhapus dari peta suku bangsa Indonesia.

Maka seyogyanya bahasa-bahasa banjar “prokem” (misal; auk, imak) yang aneh-aneh sudah saatnya dihilangkan, mana lebih manis terdengar bila dibandingkan dengan ulun, pian, andika, kaula, ading, diang, itai, galuh dll. Lebih cantik dan anggun bukan?

Nang kaya apa mun manurut andika…?

“edensor”

“aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan logika, aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku kehidupan yang ujung nya tak dapat disangka” aku ingin hidup yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. aku ingin hidup! merasakan sari pati hidup

Dalam pertautan nasib, mempertemukan kita dalam simpul-simpul persahabatan, indah dan kemudian tak terbantah. sekali lagi jogja memasung hati, jogja menjadi simbol persahabatan, sebuah ekspresi kebebasan, ha ha tentu sebagai kuliner adventure yang ajiib…

tak cukup banyak diksi kata yang dapat menggambarkan semua yang terasa, entah bagaimana narasi itu akan mengalir dari lidah kelu para pujangga dari segala zaman. untuk sekedar “add memories”
dengan bumbu nativism…

tentu kota ini mempesona, sehingga dari segala raja mencoba bertahta disini…

teman terbaik, yang bukan sekedar sahabat…antara cerita masa kecil sampai pergulatan sensualitas yang terhampar didepan mata dengan istilah “Celana Gemes” terlontar dengan brilian dari prosesor seorang sahabat “AWan CaHYadi”..

hanya persahabatan yang agung

dengan para banjaris yang mengelenda pada waktunya (“aku kira akan selamanya di mata hatiku : andi Fitri, Hj. Imah, Ading AnJar”) trims to everything…to semua birunya persahabatan. banyak lagi lembar cerita yang akan kita susun, seperti detik waktu yang selalu berputar yang menghalusinasi malam. teruslah kita bermimpi, karena tuhan akan memeluk mimpi kita dan merubah jadi nyata. kita tunggu jadi apa kita kelak…..!!!!!!

juga dengan tatapan batu-batu purba yang tersusun diantara mitos yang melindungi, prambanan yang mempesona, atau hanya sekedar mengejar sunset di cakrawala Parang tritis, bahkan dengan secangkir kopi Joss pahit di sudut-sudut kota, (angkringan they call that..)

segalanya yang memikat, segalanya yang membuat kita jatuh cinta dengan nya….(jogja,,saat bersedih meninggalkannya)

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »