…dan semua ketakutan yang ada…

GERAKAN PETANI TAMBAI PADA ABAD IX DI KALIMANTAN SELATAN

GERAKAN PETANI TAMBAI PADA ABAD IX

DI KALIMANTAN SELATAN

Perang banjar yang meletus pada tanggal 18 April 1859, diyakini bukan hanya sebagai perang memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan “tanah banyu” Banjar, melainkan lebih dari itu, yaitu sebagai “Perang Sabil” untuk menjunjung simbol agama yang suci. Sebagai pimpinan yang tertinggi Perang Banjar Pangeran Antasari diberikan gelar Amiruddin Khalifatul Mu’minin, dengan semboyannya “Haram Manyarah, gawi Manuntung, Waja Sampai Kaputing”. Apabila dicermati Perang Banjar yang panjang itu yang dimulai di desa Muning yang dipimpin oleh elit desa, dalam konteks ini dapat dikatagorikan sebagai sebuah gerakan sosial.

Gerakan sosial di muning ini di kenal dengan Gerakan Datu Muning, yang di pimpim oleh seorang yang dahulunya seorang perampok dan pembajak yang disebut Panembahan Muda Aling. Kehadiran Aling sebagai pertanda konflik politik di antara elite politik tradisional berada pada puncaknya. Pertikaian-pertikaian politik pada kerajaan Banjar yang berlangsung lama, membuat terpe­cah-pecah, yang akhimya kerajaan Banjar harus diserahkan kepada Belanda. Sebagaimana diketahui, sejak dahulu masyarakat Banjar tidak pemah bersatu, selalu bertikai dan mudah terpecah belch. Kera­jaan-kerajaan yang dibangun di wilayah yang sekarang disebut Kalimantan Selatan tidak pernah menjadi besar sebagaimana yang terdapat di Jawa.Gerakan Petani Banjar……….

Kehadiran Aling merupakan langkah untuk mencari resolusi konflik, yang dilakukan para penduhulunya, seperti Ampu Jatmika dan Patih Masih. Pilihan Aling yang dijatuhkan kepada Pangeran Antasari merupakan figur yang mampu menciptakan integrasi sosial politik merupakan pilihan yang tepat. Pangeran Anta­sari, yang pada akhimya, mempu menyatukan masyarakat Banjar untuk menentang pemerintah kolo­nial Belanda dengan perlawanan rakyat Banjar yang disebut Perang Banjar. (Husni Abrar, 2003).

Lingkungan Alam/ Geografis Muning

Secara geografis daerah Muning terletak di sepanjang sungai Muning, yang merupakan cabang sungai Negara dan bermuara di sungai Margasari. Daerah ini adalah daerah yang berawa-rawa dan merupakan daerah pertanian yang subur. Bahkan daerah ini pada waktu itu disebut-sebut seba­gai daerah lumbung padi bagi kesul­tanan Banjarmasin. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila hampir keseluruhan rakyat Muning adalah para petani. Mereka adalah para petani yang mengerjakan pertanian sawah pasang surut. Pada sebagian daerah dataran agak tinggi pada masa-masa lebih kemudian lahannya ditanami oleh masyarakatnya dengan pohon karet.

Daerah Muning ini adalah daerah tanah lungguh Pangeran Prabo Anom. Setelah pangeran ini ditangkap dan dibuang oleh Belan­da ke pulau Jawa, tanah lungguh pangeran tersebut dirampas dan dijadikan hak milik sultan Tamjid. Di daerah Muning inilah terdapat sebuah kampung yang diberi nama Kumbayau, tempat gerakan sosial dari golongan masyarakat jaba bangkit, dipimpin oleh seorang yang bemama Aling.

Kampung Kumbayau daerah asal Aling sendiri sebenarnya merupakan daerah perkampungan yang tidak begitu besar. Pada saat itu diperkirakan hanya terdapat permukiman yang terdiri dari tidak lebih dari 32 buah rumah. Akan tetapi, sejak Aling mampu memun­culkan dirinya sebagai tokoh temyata pengaruhnya melampaui dari sekedar lingkup kampung Kumbayau. Gerakan yang dimo­tori Aling melingkupi wilayah Muning secara keseluruhan, bahkan lebih dari itu dilihat dari sisi gerakannya is mampu lebih luas lagi sehingga sulit dibantah bahwa Perang Banjarmasin yang meletus meliputi wilayah Kaliman­tan Tenggara justru dimulai dari adanya gerakan Aling yang beru­jung pada perlawanan secara fisik terhadap penjajahan Belanda. Dari perlawanan yang dilakukan oleh para petani Tambai, kemudian meluas menjadi sebuah perang besar yaitu perang Banjarmasin. (Anis & Bambang: 2005).

Kampung Kumbayau terle­tak didaerah dataran rendah yang berawa-rawa dan sukar dilewati. Perjalanan dari Martapura ke Kum­bayau memerlukan waktu perjalan­an selama dua hari, baik itu ditem­puh melalui sungai maupun melalui darat. Perjalanan menuju kam­pung Kumbayau melalui sungai harus menggunakan jukung (pera­hu) kecil dari Martapura. Sedang­kan perjalanan dari Martapura ke Kumbayau melalui daratan harus melewati jalan setapak. Untuk mencapainya orang harus mengeli­lingi kampung-kampung kecil yang terpencil. Kampung Kumbayau baru menjadi pusat perhatian ma­syarakat Banjar, karena munculnya gerakan sosial Panembahan Muda Aling tersebut. Muning, kemudian saat ini sekarang dikenal dengan daerah (desa) Lawahan, yang secara administrasi pada saat ini menjadi bagian dari daerah Kecamatan Tapin Selatan Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.
Penduduk daerah Muning di samping petani, mereka juga menangkap ikan air tawar yang hasilnya kemudian dijual ke pasar di luar daearh Muning. Daerah Muning memberikan banyak penghasilan pertanian pada penduduknya karena tanahnya yang terdiri atas rawa-rawa yang subur. Sistem pertanian adalah sistem pertanian pasang surut. Pada saat gerakan sosial Panem­bahan Muda Aling bangkit, daerah ini sedang mengalami panen padi yang baik dan hasil panennya me­limpah ruah sehingga memberikan kesejahteraan penduduknya. Harga beras menjadi murah, 1 gantang (lima liter) berharga f 4 dan 1 gantang garam dapur dapat ditukar dengan 5 gantang beras.

Pada sisi lain, daerah Muning juga terkenal dalam hal kejahat­annya. Perampokan dan pemba­jakan sering terjadi di sepanjang sungai Muning dan di bagian sungai Negara, tempat sungai Muning bermuara. Aling sebelum menjadi pemimpin pergerakan sosial, adalah juga seorang peram­pok dan pembajak yang ditakuti dan disegani. Aling bukanlah seorang penduduk asli dari Muning, dan oleh karena itu, kita dapat menduga para pembajak dan perampok bukanlah berasal dari daerah Muning asli.

Melihat Tatar belakang pen­duduknya dan wilayahnya sebagai sarang perampok dan pembajak, maka daerah Muning bertumbuh dan berkembang populasinya. Hal ini mungkin, disebabkan sebagian besar anggota perampok dan pembajak berasal dari berbagai daerah di wilayah Kerajaan Banjar dan menjadikan daerah Muning sebagai tempat persembunyian mereka. Kemudian terbentuklah kampung-kampung kecil, disusul areal pertanian di sekitarnya. Akhimya mereka hidup berkeluarga dan berketurunan di kampung‑kampung tersebut.

Gerakan Radikal Petani Tambai

Pembahasan mengenai kausalitas gerakan petani Tambai tidak lepas dari semakin kokohnya cengkraman politik kolonial terhadap kerajaan Banjar. Gerakan petani Tambai dapat dikategorikan sebagai gerakan radikal. Untuk mendefinisikan gerakan radikal kami meminjam pengertian radikal yang ditawarkan oleh Sartono Kartodirjo. Hemat Sartono Kartodirjo (1984: 38), gerakan radikal adalah gerakan yang menolak secara menyeluruh tertib sosial yang sedang berlaku dan ditandai oleh kejengkelan moral yang kuat untuk menentang dan bermusuhan dengan kaum yang memiliki hak-hak istimewa dan yang berkuasa.

Pada masa itu, para petani menyaksikan kemunduran politik dan wewenang di kalangan elite politik kerajaan yang telah tunduk terhadap kepentingan pemerintah kolonial. Realitas ini, membuat para petani Tambai melecehkan keberadaan para elite politik dan mereka mulai mencari para pemimpin yang bukan berasal dari elite birokrasi kerajaan.
Pada saat yang sama, semakin merosotnya wewenang para elite politik kerajaan, kebangkitan, agama Islam semakin terasa di wilayah kesultanan Banjar. Menurut Rees (1865: 31­32) jumlah haji di Kalimantan Tenggara bagian selatan sebanyak 100 orang haji. Bahkan, Agama Islam oleh Sultan Adam dijadikan sebagai identitas Orang Banjar. Merupakan suatu kewajaran apabila Orang Banjar sebagai pemeluk agama Islam. Merefleksi­kan kebenaran sesuai dengan ajaran agama. Dalam pandangan Orang Banjar, orang kulit putih identik dengan kafir, sedangkan pribumi yang bekerja untuk kepentingan kulit putih disebut pembantu kafir. Merekapun merasa, bahwa hak-haknya tidak diperhatikan lagi oleh kerajaan. Pajak yang tinggi tidak diterima oleh para petani, ketika Pangeran Tamjidillah pada tanggal 3 November 1857 diangkat oleh pemerintah colonial sebagai Sultan Banjar. Menurut para petani, pengangkatan Pangeran Tamjiddillah menjadi sultan merupakan pelanggaran tradisi yang tidak dapat dimaafkan. Sebab, di mata para petani Tamjidullah adalah anak ompang, yaitu anak yang lahir sebelum ibunya (seorang selir) yang bernama Nyai Aminah, seorang Cina keturunan Dayak, dinikahi oleh ayahnya, yaitu Sultan Muda Abdurrahman. Sultan Muda dari permaisurinya bernama Ratu Siti memperoleh anak bernama Pangeran Hidayatullah.

Dalam berprilaku menurut pandangan para petani, Tam­jidullah tidak mencerminkan layaknya Orang Banjar. Ia lebih suka mengejar kenikmatan hidup diantara orang Eropa di Banjar­masin. Ia juga terbiasa dengan minuman keras yang memang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Bahkan Tamjidullah membiarkan dua adik perempuan­nya, yaitu Ratu Ishak yang tinggal bersama tanpa nikah dengan pejabat Eropa di Banjarmasin, sedangkan Ratu Kramajaya menjadi gundik dari seorang pegawai bea cukai di kantor residen (Syamsuddin, 2001: 127). Para haji yang memang banyak berada di kesultanan Banjar dan para petani tidak dapat menerima gaya hidup seperti ini.

Menurut sumber yang ber­hasil direkam oleh Helius Syamsuddin (128), Tamjidullah juga tidak memperoleh simpatik, sebab ia merobek-robek segel yang bercapkan sultan yang sedang berkuasa (saat itu Sultan Adam) memperoleh bagian dari penghasilan kerajaan, bahkan Tamjidullah juga meminta bagian dari pemasukan kerajaan yang diperuntukan kepada para bangsawan.
Ketika Tamjidullah diangkat oleh pemerintah kolonial menjadi sultan muda, Sultan Adam, para pembesar istana dan para petani menjadi kecewa dan terluka hatinya. Sultan Adam lalu membuat surat wasiat, yang isinya Pangeran Hidayatullah sebagai cucunya kelak yang akan menjadi sultan Banjar. Kepada para pemimpin agama, pemuka rakyat dan para petani untuk patuh kepada Pangeran Hidayat sebagai Sultan mereka dan siapa yang melanggar, Sultan Adam bersumpah akan dimurkai Allah dan dikutuk oleh Allah (Syamsuddin: 121).

Ketidakpuasan petani terha­dap aparat yang merupakan bagi­an dari kaki tangan Tamjidullah, terutama petugas pajak sudah berlangsung sebelum Tamjidullah diangkat menjadi Sultan. Misalnya pada tahun 1853 tiga orang petu­gas pajak disekitar Amandit telah dibunuh oleh para petani. Di Banua Lima, para petani menolak membayar pajak kemudian dilan­jutkan dalam gerakan keagamaan bemama beratib beramal.
Keradikalan petani Tambai di daerah Tapin Hilir sekitar 1859 terlihat, ketika seorang petani yang matanya sudah rabun bernama Aling telah menghasut para petani untuk menolak membayar pajak dan menentang pengangkatan Pangeran Tamjidullah menjadi sul­tan Banjar oleh pemerintah kolonial. Dengan diangkatnya Tamjidullah menjadi sultan oleh pemerintah kolonial dalam sudut yang lain juga meminggirkan elite tradisional (elite agama dan aristokrat yang mempertahankan tradisi), yang kemudian perannya diganti oleh elite sekuler tradisional yang dianggap sebagai kepanjang­an tangan pemerintah kolonial di banua Banjar.

Pengangkatan Tamjidullah menjadi sultan oleh kebanyakan petani dan bangsawan tidak dise­tujui karena ia merupakan produk dari kegagapan sosial dan budaya yang direkayasa oleh pemerintah kolonial. Merupakan kewajaran apabila masyarakat Banjar, khu­susnya para petani menentang pengangkatan ini, karena dianggap telah melanggar tradisi yang telah mapan. Padahal sebagian besar masyarakat, khususnya para petani memegang penuh tradisi dan tindakannya diliputi oleh suasana keagamaan. (Anis & Bambang: 2005)

Kampung Tambai merupa­kan kampung pusat gerakan radikal merupakan daerah yang sulit untuk dicapai karena terletak di daerah daratan dan berhutan lebat. Dari Martapura sebagai ibukota kerajaan Banjar ke kampung Tambai menghabiskan waktu dua hari. Awalnya Kampung Tambai merupakan daerah apa­nage Prabu Anom, akan tetapi setelah ia meninggal maka wilayah ini diambil oleh Sultan Tamjidullah. Penduduk Tambai selain berprofesi sebagai petani tidak jarang juga mereka menjadi penangkap ikan dan sekali-kali menjadi bajak sungai.

Aling pada masa mudanya pemah menjadi seseorang peram­pok sungai, kemudian menjadi tagop (pengawal) Sultan Adam di keraton Martapura. Ketika ia merasa sudah cukup tua, ia kem­bali ke Kampung Tambai. Betapa terkejutnya ia sampai dikam­pungnya sebab Pembakal Karim telah merampas tanahnya dan hasilnya (Syamsuddin: 92). Aling menangkap realita yang diha­dapinya dan memunculkan, apa yang disebut oleh Freire (Fakih, 2003:31) sebagai suatu kesadaran kritis (critical consciousness). Kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Hemat Aling struktur dan sistem baru yang dipaksakan oleh pemerintah kolonial menjadi sumber terpinggirkannya sistem lama. Aling berpendapat, bahwa setiap pelanggaran terhadap, adat dapat dianggap sebagai ancaman equalibrim kehidupan masyarakat tradisional.
Dalam kekecewaannya, Aling memutuskan untuk melaku­kan suatu proses spritual dalam wujud balampah (bertapa/ascetic) dengan cara menggantungkan dirinya dalam posisi kepada ke bawah, kaki di atas di sebuah pondok ditengah-tengah ladangnya selama 40 hari 40 malam (Ress: 42). Tujuan balampahnya, ia meminta ampun kepada Allah akan dosa-dosa yang pernah dilakukannya dan meminta petun­juk-Nya tentang tindakan apa yang hares dilakukan terhadap keterhim­pitan sosial, budaya, ekonomi, politik yang menerpa masyarakat Banjar. Dalam balampahnya, ia mendengar suara gaib. Cerita tentang Aling ini dituturkan oleh Sambang anaknya ketika ia diintrogasi oleh Residen J.J Meijer (Syamsuddin: 134).
Suara gaib yang diyakini ini berbunyi, sebagai berikut: “ikam nang baamal dengan kasukaan aku, akan permintan mendapat nagri dan pagustian ikam batatap, karjaakan barbunyian, Sarta anak ikam nang bisa bagan­dut-ganduton, limbah sudah jadi barbunyian, mau raja gaib manu­lung ikam, sakiro-kira jadi selamat nagri dan raja pun tatap. Tetapi Pangiran Antasari ikam aturi di Muning”.

Setelah selesai, Aling menye­lesaikannya balampahnya, kemu­dian ia mengklaim, bahwa dirinya sebagai utusan Tuhan yang ditugaskan sebagai juru selamat (mesiasnistis) untuk menyela­matkan kerajaan Banjar yang tengah terpuruk akibat dominasi pemerintah kolonial. Sebagai bukti, bahwa ia adalah juru selamat maka ia mendemontrasikan kemampuan adikodratinya untuk menyembuhkan 4 orang petani yang masing-masing bernama: Andin, Belakup, Lanting dan Muna yang sedang sakit parah (Gani, 1990). Sehingga, Aling diyakini oleh para petani memiliki kemampuan yang sangat adiko­drati (superhuman). Kemasyuran tentang kemampuan adikodrati yang dimiliki oleh Aling tersebar tidak hanya di Kampung Tambai akan tetapi menyebar ke kampung tetangganya.

Ketika para petani meyakini, akan kelebihan adikodrati yang dimiliki oleh Aling, ia kemudian mendirikan suatu replika kerajaan dengan segala atribut kerajaan seperti payung dan panji-panji kerajaan yang berwarna kuning. Memang warna kuning bagi masyarakat Banjar adalah warna yang dimaknai sebagai warna yang mengandung ketuahan, kekera­matan dan kemuliaan. Kerajaan itu diberi nama Kerajaan Tambai. Kata Tambai dalam bahasa Banjar mengandung arti pemu­laan. Pendirian Kerajaan Tambai oleh Aling merupakan suatu simbol yang dapat diartikan, sebagai bentuk awal perlawanan petani terhadap kaum feodal, perlawanan tradisional terhadap ke modern (yang dibawa oleh kolonial), perlawanan rakyat terhadap negara.
Seperti layaknya sebuah kerajaan, maka Aling pun mem­berikan gelar-gelar kepada dirinya sendiri, anak-anaknya dan kera­batnya. Gelar-gelar itu bersifat magis-sakral. Misalnya Aling bergelar Panembahan Kuning, Sambang anak tertuanya bergelar Sultan Kuning, anaknya keduanya bergelar Pangeran Surianata, anak ketiganya diangkat sebagai mangkubumi dan anak-anaknya diberi gelar Ratu Keramat, sedangkan Saranti putri terakhirnya diberi gelar Putri Junjung Buih. Suami dari anak ketiganya, oleh Aling diberi gelar Saidina Ali, sedangkan keponakannya diberi gelar Siti Fatimah. Aling juga memberikan gelar kepada panglimanya, yaitu Juntai di Langit, dan seorang perempuan dari kerabat jauhnya diberi gelar Fatimah sebagai panglima yang memimpin pasukan khusus wanita (Syamsuddin: 135).

Apabila dicermati gelar-gelar yang disandang oleh Aling dan anak-anaknya merupakan suatu campuran dari tokoh sejarah Banjar, saudara Nabi Muhammad SAW dan tokoh mitos yang berada di dalam imaginasi para petani. Menarik untuk dicermati, bahwa Aling juga mempunyai sikap yang nyeleneh. Sebab, dalam pandang­an tradisional, bahwa yang berhak menjadi raja adalah orang yang dianggap, keturunan tokoh mitos apabila yang bukan keturunan berkeinginan menjadi raja maka malapetaka akan menyapa. Aling menyadari tentang itu, sebab ia secara geonologi adalah keturunan jaba. Akan tetapi penguasa yang diwakili oleh Sultan Tamjidullah dan pemerintah kolonial telah mempurukan nilai-nilai tradisi yang diyakini oleh masyarakat. Untuk itu, ia pun melawan simbol ke­kuasaan dengan menggunakan simbol gelar yang lebih tinggi dari yang digunakan para penguasa, yaitu gelar Sultan. Aling memakai gelar panembahan. Gelar panembahan berawal dari kata sembah yang diperuntukan kepada orang yang dimuliakan. Gelar panembahan yang disandang oleh Aling, kira mempunyai arti, bahwa Aling adalah orang yang harus dihormati karena memiliki sifat kemuliaan, dan kekeramatan. Sementara itu, Tamjidullah sebagai kepala negara kerajaan Banjar hanya bergelar sultan. Ini berarti, bahwa Sultan Tamjidullah harus menghormati Panambahan Aling. Makna yang lebih lugs adalah penguasa apabila tidak amanah maka derajatnya berada dibawah orang biasa.

Sambang memakai gelar Sultan Kuning. Nama Sultan Kuning adalah nama lain dari Sul­tan Hamidullah yang memerintah Kerajaan Banjarmasin sekitar 1700-1734 (abad XVIII). Kerajaan Banjarmasin ketika diperintah oleh Sultan Kuning dapat dikatakan mengalami kejayaan. Sultan Kuning merupakan buyut dari Pangeran Antasari, salah seorang dari dua pahlawan nasional yang dimiliki oleh Orang Banjar. Pemakaian gelar Sultan Kuning oleh Sambang memberikan informasi, bahwa gerakan radikal petani Tambai berideologikan nativistic, yaitu: ideologi yang meromantiskan kejayaan masa lampau. Untuk kembali kemasa lampau, para petani harus mela­kukan gerakan radikal.

Sementara itu, Saranti memakai gelar Putri Junjung Buih. Nama Putri Junjung Buih adalah nama putri yang dimitoskan keluar dari buih air. Kelak, Putri Junjung Buih menurunkan Raja-raja Banjar. Pemakaian Gelar Putri Junjung Buih oleh Saranti menggambarkan, bahwa Saranti merupakan simbol tentang wanita tani yang lemah, akan tetapi mampu juga melakukan oposisi bahkan mengalahkan kekuasaan penguasaa negara yang zholim, yaitu Tamjidullah. Sebab, mema­kai gelar Putri Junjung Buih merupakan sebuah simbol tentang legitimasi dalam kekuasaan tradisional yang berpindah kepada para tani. Arti yang lain, Saranti sedang membangun citra, bahwa para petani lebih absah dalam menjaga nilai-nilai tradisi ketimbang Tamjidullah seorang bangsawan yang selalu melanggar adat.
Panembahan Aling dan Saranti melakukan suatu aktivitas ritual dengan diringi suara gamelan dan tarian gandut. Ritual yang diiringi gamelan dan tarian gandut pada dasarnya adalah pelaksanaan apa yang diperintahkan oleh suara gaib ketika Aling sedang melakukan kegiatan lampahnya (astetic). Suara gamelan yang bertalu-talu tersebar ke seantero kampung disekitar kampung Tambai, sehingga menarik perhatian para penduduknya untuk datang ke Tambai. Pada awal bulan puasa tanggal 5 April 1859, Aling mendirikan masjid.. (Syamsuddin: 136). Tanah tempat masjid itu didirikan dipercaya oleh petani memiliki kekuatan gaib. Banyak para petani datang berziarah dan membawa tanahnya untuk dijadikan jimat.

Sensasi nama Panembahan Aling menambah besar jumlah pengikutnya. Ketika Panembahan Aling sudah merasa banyak pengikutnya baru ia melontarkan gagasannya untuk merestorasi kerajaan Banjarmasin lama kembali kepada kebesarannya dahulu dengan cara menyingkirkan Tamjidullah yang menjadi sultan dan mendudukan yang lebih legitim (Pangeran Antasari atau Pangeran Hidayatullah) di atas Singgasananya. Panembahan Aling juga mengintruksikan para petani untuk tidak membayar pajak.

Sejak saat itu, para pendukung Aling mulai bertambah kembali. Pendukung Aling tidak melulu para petani, melainkan juga para haji, kepala-kepala daerah pada tataran bawah. Misalnya Pembakal Ali Akbar dari Sungkai, Haji Buyasin dari Cintapuri, Pembakal Bakim dari Pengaron. Tanpa Kesukaran yang berarti, pengikut Panembahan Aling semakin bertambah, penduduk gunung lawak, para buruh tambang batubara Pangaron dan sekitamya.
Jumlah kekuatan yang berhasil direkrut Panglima Aling, menurut keterangan Meijer (Syamsuddin: 138) berjumlah 500 orang petani bersenjata lengkap, termasuk pasukan wanita yang bersenjata Klewang.

Diantara para pengikut Panembahan Aling terdapat sejumlah aristokrat Banjar. Di antaranya adalah Pangeran Antasari, seorang Pangeran keturunan yang legitimit dari dinasti sultan Banjar yang diusurpasi. Pangeran Antasari merupakan pangeran yang rendah hati, sangat sederhana dan sifatnya sangat jauh dari nafsu angkara murka. Waktu hidupnya dihabiskan lebih banyak di tanah apanagenya di daerah Mangkauk ketimbang di istana yang terletak di Martapura. Kesederhanaan hidupnya terlihat dari penghasilannya. Antasari hidupnya tidak melulu mengandalkan penghasilan tahunan dari Mangkauk yang hanya sebesar f 1.300 sampai f 1.400. Untuk menambah kekurangan biaya hidupnya, ia memasok kayu untuk keperluan tambang batubara di Pangaron (Andeson dalam Syamsuddin: 139). Data ini menggambarkan, bahwa Antasari hidupnya sangat sederhana dan bukan tipe sebagaimana layaknya para bangsawan yang konsumtif. Gaya hidup yang dilakoni oleh Pangeran Antasari apakah ia dipinggirkan secara sengaja oleh istana, atau memang keinginan ia tidak diperoleh informasinya.

Tidak diketahui secara persis kapan, bagaimana dan siapa yang memulai pertemuan antara Panembahan Aling dengan Pangeran Antasari agar ia mau diusung menjadi sultan Banjar. Sebab, apabila dilihat secara geneologis, Pangeran Antasari yang paling legitim menduduki tahta kesultanan. Selain itu, Panembahan Aling mengusulkan, bahwa anaknya Antasari yang bernama Gusti Muhammad Said dikawinkan dengan anaknya yang bernama Saranti. Antasari tidak dapat memberikan jawaban, sebab anaknya Said tidak hadir dalam pertemuan itu. Akan tetapi, secara tersirat Antasari menyetujui ajakan melakukan pertautan keke­rabatan melalui jalur pemikahan. Hal ini dibuktikan, ketika Antasari memberikan f 1.10 sebagai jujuran (mas kawin).
Menarik untuk dicermati penawaran dan persetujuan antara Aling dan Pangeran Antasari untuk menikahkan kedua orang anaknya. Secara derajat hubungan antara Aling dan Pangeran Antasari memang tidak setara melainkan hirarki yang diwujudkan sebagai hubungan, ayah, anak dan me­nantu. Pola hubungan ini, memun­culkan hubungan kekerabatan yang kental bukan berdasarkan sistem kontrak yang semu. Hal ini semakin tampak, ketika Pangeran Antasari tidak keberatan, ketika mengetahui Sambang memakai gelar Sultan Kuning yang merupa­kan nama kakeknya, seorang sul­tan Banjar yang memerintah pada abad XVIII dan sangat dicintai oleh rakyat dan kaum bangsawan.

Pertemuan yang kemudian disepakati untuk berkoalisi menentang sultan antara Aling dan Pangeran Antasari terendus Sultan Tamjidullah yang memang memiki sifat penakut yang berlebihan dan pengecut sangat ketakutan. la kemudian memohon kepada residen untuk membantunya secara militer, bahkan ia meme­rintah masyarakat Martapura untuk membuat benteng perlin­dungan dan berharap banyak untuk melidungi dirinya dan istana.

Merasa tidak aman, akhimya Tamjidullah minggat meninggalkan istana Martapura ke Banjarmasin. Larinya Tamjidullah ke Banjar­masin, menjadi buah bibir yang cenderung mencibirkan sifat Tamjidullah. Bahkan, banyak juga yang mengkaitkan dengan ramalan lama, bahwa setelah sultan kedua belas memerintah maka akan terjadi perubahan dinasti yang berkuasa di kesultanan Banjar (Syamsuddin: 145). Secara kebetulan,Tamjidullah adalah sul­tan kedua belas yang memerintah kerajaan Banjar semakin terbukti.

Pada pagi hari pukul 7 pagi, tanggal 28 April 1859, kurang lebih 300 orang petani Tambaj yang dipimpin Sambang (Sultan Kuning), Pambakal Ali Akbar dari Sungkai, dan Pambakal Bakim mulai menyerang pertambangan batubara di Pangaron. Milik pemerintah kolonial Belanda bernama Oranje Nassau. Daerah Riam Kiwa. Pertambangan batubara Oranje Nassau dibuka pertama kalinya oleh Gubernur Jendral Rochussen 1849. Pertam­bangan batubara Oranje Nassau, awalnya memproduksi batubara sebesar 10.000 ton setiap tahun. Pada tahun 1854 meningkat menjadi 14.794 ton (Broersma dalam Tunjung, 2004: 48). Burch tambang batu bara Oranje Nassau berjumlah 400 orang hukuman dan 45 orang serdadu pribumi, lima orang serdadu Eropa, seorang dokter dan dibawah komandan Beekman (Rees:66-6).

Tambang Batubara Oranje Nassau dipilih untuk diserang oleh para petani merupakan simbol penyerangan terhadap kapitalisme dan kepentingan Belanda, pada tahun 1859 ditutup dan diikuti oleh penambangan-penambangan lainnya yang beroperasi di Kali­mantan Selatan (Lindibland, 1988: 33). Bangunan-bangunan pertambangan milik orang Belanda dirusak dan beberapa pegawainya dibunuh oleh para petani Tambai. Mereka itu adalah J.G. Hooperts bersama seorang putrinya dan Motley. Selain, menyerang tambang batu bara Oranje Nassau, para petani juga menyerang perkebunan milik kolonial di Gunung Tabok dan menewaskan tiga orang Perancis dan empat orang Indo-Eropa. Banyu Irang, Tanah Laut, Banua Lima tidak luput diserang oleh petani Tambai.

Pada tanggal 23 September 1859, residen Verspyek memu­tuskan untuk mengambil tindakan tegas untuk menyerang kampung Tambai sebagai pusat gerakan radikal petani. Penyerangan langsung terhadap kampung Tambai membuat markas gerakan hancur dan Panembahan Aling konon ikut tewas. Akan tetapi gerakan radikal petani Tambai menjadi istimewa, sebab gerakan radikal ini berlanjut kedaerah lain dan area perlawanan meluas sampai ke wilayah disebut sekarang Kalimantan Tengah.

Munculnya gerakan radikal petani Tambai juga menyadarkan pemerintah kolonial Belanda akan kekeliruannya akan kebijakannya mengangkat Tamjidullah menjadi sultan. Pada akhirnya kerajaan Banjar pada tahun 1860 dihapus oleh kolonial Belanda, akan tetapi perlawanan rakyat yang di dalam sejarah nasional disebut dengan perang Banjar masih berlanjut sampai 1906.

Sumber Data :
Husni Abrar, Panembahan Muda Aling (Datu Muning): Sebuah Studi Kasus tentang Kekuasaan da­lam Masyarakat Banjar, Pemkab Tapin, Cet. Ke-2, 2003.
M. Zainal Arifin Anis & Bambang Subiyakto, Radikalisasi Petani Tambai Pada Abad XIX di Kaliman­tan Selatan, Laporan Penelitian, FKIP UNLAM, Banjarmasin, Oktober 2005.

Ramli & Adit, Hikayat & cerita Datu Aling, Transkrip Kaset Wawancara dengan Bapa Rahman di Kam­pung Lawahan, Tapin, 2006.

Wahyuddin, Potret Perang Banjar: Peranan Tare­kat Sammaniyah dalam Gerakan Perjuangan Melawan Penjajahan Belanda di Tanah Banjar, Makalah Diskusi Ilmiah, Lembaga Kajian Keislaman & Kemasya­rakatan (LK3), Jum’at 11 Oktober 2002.

5 responses

  1. jadi nambah ilmu sejarah baca blog km dhar…🙂

    Desember 16, 2008 pukul 10:30 am

  2. artikelnya menarik mas,,,,sebagian tak copy pate buat tugasku,,,tentang pergerakan petani,,,maturnuwun….

    April 5, 2010 pukul 12:24 pm

  3. daftar rujukannya kurang satu ya…pasti membaca jg buku Pegustian dan Temenggung; Akar Sosial, Politik, Etnis, dan Dinasti; Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906…terimakasih.

    Juni 2, 2010 pukul 3:38 am

  4. DHarMa sEtYAwaN

    putrinugraha:silahkan kalo memang membantu…

    Desember 4, 2010 pukul 1:07 am

  5. DHarMa sEtYAwaN

    Dana Listiana:oh iya….makasih

    Desember 4, 2010 pukul 1:08 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s