…dan semua ketakutan yang ada…

opini

Membangun Kebudayaan Bangsa

Membangun Kebudayaan Bangsa

Kebutuhan untuk membangun kebudayaan bangsa, bagi kita, sesungguhnya dimulai semenjak kita berhasil mendirikan satu negara-bangsa. Dalam kaitan ini, kearifan lokal yang terkandung dalam sistem seluruh budaya daerah atau etnis yang sudah lama hidup dan berkembang adalah menjadi unsur budaya bangsa yang harus dipelihara dan diupayakan untuk diintegrasikan menjadi budaya baru bangsa sendiri secara keseluruhan.

Pengembangan kearifan-kearifan lokal yang relevan dan kontekstual memiliki arti penting bagi berkembangnya suatu bangsa, terutama jika dilihat dari sudut ketahanan budaya, di samping juga mempunyai arti penting bagi identitas daerah itu sendiri. Koreografi, musik, dan sastra yang menempatkan nilai-nilai lokalnya sebagai sumber inspirasi kreatif, bagi daerah yang bersangkutan akan mendorong rasa kebanggaan akan budayanya dan sekaligus bangga terhadap daerahnya karena telah berperan serta dalam menyumbang pembangunan budaya bangsa. Karya-karya seni budaya, yang digali dan sumber-sumber lokal, jika ditampilkan dalam ‘wajah atau wacana keindonesiaan’ niscaya memiliki sumbangan yang sangat besar bagi terciptanya identitas baru keseluruhan bagi bangsa secara keseluruhan.

Kearifan lokal yang juga meniscayakan adanya muatan budaya masa lalu, dengan demikian, juga berfungsi untuk membangun kerinduan pada kehidupan nenek moyang, yang menjadi tonggak kehidupan masa sekarang. Dengan cara demikian, situasi sadar budaya dapat ditumbuhkan. Dengan cara demikian pula, kesadaran masyarakat terhadap sejarah pembentukan bangsa dapat ditumbuhkan. Anggapan bahwa yang relevan dengan kehidupan hanyalah masa kini dan disini, juga dapat dihindari. Kearifan lokal dapat dijadikan jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa sekarang, generasi nenek moyang dan generasi sekarang, demi menyiapkan masa depan dan generasi mendatang. Pada gilirannya, kearifan lokal pun dapat dijadikan semacam simpai perekat dan pemersatu antar generasi.

Nang kaya apa manurut andika…?


banjar bahasaku

banjar bahasaku

eksistensi suatu bangsa ditandai oleh bahasa nya

ungkapan ini seharusnya menjadi cambuk bagi kita urang banjar untuk selalu menjaga dan memelihara bahasa banjar banjar sebagai manifestasi dari upaya mempertahankan identitas diri yang utama bagi suku atau etnis banjar.

Kalau seumpamanya bahasa banjar itu sudah tidak terpakai lagi dalam tata pergaulan sesama urang banjar, karena urang banjar sendiri enggan atau malu menggunakannya dan tergantikan oleh sebuah bahasa lain (bahasa apapun itu), itu berarti pada saat itu eksistensi urang banjar sebagai suatu suku bangsa juga sudah tidak ada lagi dan terhapus dari peta suku bangsa Indonesia.

Maka seyogyanya bahasa-bahasa banjar “prokem” (misal; auk, imak) yang aneh-aneh sudah saatnya dihilangkan, mana lebih manis terdengar bila dibandingkan dengan ulun, pian, andika, kaula, ading, diang, itai, galuh dll. Lebih cantik dan anggun bukan?

Nang kaya apa mun manurut andika…?