…dan semua ketakutan yang ada…

sejarah

Profil Kapal Perang Belanda “ONRUST” 1858

kpl-unrust1

Pada abad ke – 19 adalah masa kolonialisme dan imperlalisme modern, hal ini terjadi akibat revolusi industri yang berkembang pesat setelah ditemukannya teknologi baru yaitu mesin uap. Kapal api, kereta api serta pabrik- pabrik yang menggunakan mesin uap (batu bara), ini yang sangat cepat merubah keadaan dunia. Sebagian dari kapal-kapal Belanda yang datang berlayar ke Indonesia, baik itu kapal – kapal perang Pemerintah Hindia Belanda maupun kapang dagang sipil, itu semua memerlukan bahan bakar batu bara arang mesin uapnya. Batu bara ini dulu di import dari Eropah, dan biayanya mahal sekali. Kemudian Belanda sangat mengetahui hal yang seperti ini, bahwa di wilayah kerajaan Banjar banyak terdapat Batu bara yang telah ditambang rakyat secara tradisional. Kerajaan Banjar sejak tahun 1787, merupakan tanah pinjaman V.O.C. kepada raja-raja. Pemerintah Belanda terkenal sangat licin dan licik, Sultan Adam dipaksa untuk memberikan konsesi wilayah penambangan. Pemerintah Belanda baru mendapatkan konsesi pada tahun 1845.Sebelumnya mereka sudah berhasil mendapatkan kontrak baru lokasi tanah (Palau Tatas) 4 Mei tahun 1826, ini juga persetujuan pada Sultan Adam, yaitu untuk membuat Fort Tatas, (sekarang Mesjid Raya Sabilal Muhtadin)

Daerah Riam Kanan ternyata penuh dengan lapisan-lapisan batu bara. Tetapi sebagai tanah lungguh ia adalah milik. Mangkubumi kerajaan dan akhirnya pada tahun 1849 berdirilah tambang batu bara ” ORANJE NASSAU ” di daerah Pengaron, tambang batu bara ini dibuka dan diresmikan oleh Gubernur Jendral RUCHUSSEN tanggal 21 September 1849. Dan ini adalah merupakan tambang batu bara Belanda yang pertama di Indonesia. Dalam waktu beberapa tahun kemudian Belanda, menambah pengamanan pada daerah-daerah ataupun wilayah vital, seperti di daratan dan sungai-sungai yang telah dikuasainya. , Belanda memperkuat pertahanan serta mendatangkan beberapa buah kapal Perang dengan peralatan modern, seperti kapal Van Gennep, kapal Kingsbergen, kapal Boni dan kapal Suriname, ditambah pula dengan serdadunya yang angkuh. Ini adalah salah satu siasat taktik dan cara permainan Belanda untuk menunjukkan pamer kekuatan kepada rakyat Banjar. Salah satunya adalah kedatangan kapal Perang Belanda “ONRUST” yang bersandar (bertambat) di Bumi Antasari, Telawang 1859 (sungai Martapura depan Kantor Walikota Banjarmasin sekarang). Namun rakyat Banjar tidak merasa kecut dan terpengaruh pada hal-hal yang seperti ini, karena sudah biasa menghadapi hal serupa, (rakyat Banjar diwaktu anti Belanda) dan bahkan pada tanggal 7 Juni 1607 pernah terjadi pembunuhan terhadap orang Belanda, yaitu Koopman Gillis Michiels-zoom bersama anak buah dan barangnya dirampas. pembunuhan seperti ini hampir setiap hari terjadi di Pelabuhan kapal bongkar muat barang (hasil bumi) baik itu dari suku Banjar (orang pribumi), maupun orang kulit putih (orang asing) yang mati Pada tanggal 29 April 1859, pasukan dari Muning dan prajurit Banua Ampat yang yang dipimpin oleh Pangeran Antasari melakukan penyerangan terhadap tambang batu bara Belanda “Oranje Nassau” di Pengaron, dari sinilah awal mulia pecahnya Perang Banjar.

Profil Kapal Onrust :

  1. a. Detail dari perusahaan Nederlands Stoomboot Maatsdhppij (Kapal Uap Belanda ) Kapal dibuat mulai tanggal 15 September 1845 di pabrik kota Feyenoord untuk Marinir Angkatan Laut Belanda yang diwakili oleh Letnan J. Groll, H. Camp. serta Insinyur Kepala dari Marinir D van de Bosch dan Kapten Roest. Kapal tersebut juga didatangkan ke pabrik pembuatnya untuk mendapat perawatan secara berkala.
  2. Nama kapal “Onrust” diambil dari nama pulau diteluk pelabuhan Jakarta (Batavia) yang juga bernama Onrust, sebagai tempat tahanan atau narapidana pada saat itu.
  3. Kapal uap tersebut juga dilengkapi dengan radar yang terbuat dari besi. Kapal tersebut masuk dalam klasifikasi. Klas 4, panjang hampir 24 meter, lebar 4 meter dan dengan luas kapal didalam air 1,15 meter. Daya mesin uap 70 tenaga kuda (pk).
  4. Kapal tersebut cukup memuat untuk 40 orang awak kapal.
  5. Kapal dilengkapi dengan persenjataan meriam pelempar peluru seberat 24 pond dan 6 senapan mesin yang berputar ( gatling gun Amerika ).
  6. Tahun 1.846 kapal Onrust dibawa ke Indonesia (Indie), dengan ditumpangkan kapal dagang bernama Bato dan tiba di Surabaya pada akhir tahun 1846. Kapal Onrust yang dilengkapi dengan mesin uap itu diturunkan ke dalam air laut pada tanggal 7 September 1847. Kapal Onrust diresmikan masuk dalam Dinas Angkatan Laut mulai tanggal 1 Januari 1848.
  7. Para awak kapal yaitu 27 orang Belanda dan 18 orang penduduk asli naik kapal tersebut pada tanggal 23 Januari 1848.
  8. Mesin kapal mampu melakukan 33 kali putaran per menit (R.P.M) dengan tenaga tekanan uap sebesar 8 pon. Kecepatan kapal adalah 8 1/4 knot.
  9. Pemakaian bahan bakar untuk 4 jam berlayar diperlukan 1 jam pembakaran batu bara sebanyak 1.200 pon dan 5 ceret (teko air yang tinggi) bahan bakar untuk 4 jam berlayar diperlukan 1 jam pembakaran batu bara sebanyak 1.200 pon dan 5 ceret (teko air yang tinggi) berisi minyak, 1 pon vet dan 1/2 pon sabun.
  10. Kapal lebih kurang dapat berlayar selama 4 hari dalam radius aktif kira-kira 1.500 km. k. Kapal lebih kurang dapat berlayar selama 4 hari dalam radius aktif kira-kira 1.500 km. Dengan persedian 30.000 pon batu Bara.
  11. Reparasi besar kapal dilakukan pada tahun l851.

Pemimpin daerah yaitu Temenggung Surapati diundang keatas kapal Onrust pada bulam Desember tahun 1859, namun Temenggung Surapati bersama pengikutnya membunuh awak kapal dan menenggelamkan kapal tersebut. Seorang awak pribumi yang dibiarkan hidup membawa berita tersebut kepenguasa atau pemimpin Belanda. Inilah catatan kapal perang belanda ” onrust ” yang tenggelam di sungai barito kampung Lalutung Tuor muara teweh. Demikian sedikit tulisan yang mengungkapkan tentang kehadiran Bangsa Belanda di Banua Banjar dan profil kapal perang Belanda “Onrust” , semoga tulisan yang sedikit ini dapat memberikan bermanfaat, pengetahuan dan berguna bagi generasi yang akan datang.

Iklan

GERAKAN PETANI TAMBAI PADA ABAD IX DI KALIMANTAN SELATAN

GERAKAN PETANI TAMBAI PADA ABAD IX

DI KALIMANTAN SELATAN

Perang banjar yang meletus pada tanggal 18 April 1859, diyakini bukan hanya sebagai perang memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan “tanah banyu” Banjar, melainkan lebih dari itu, yaitu sebagai “Perang Sabil” untuk menjunjung simbol agama yang suci. Sebagai pimpinan yang tertinggi Perang Banjar Pangeran Antasari diberikan gelar Amiruddin Khalifatul Mu’minin, dengan semboyannya “Haram Manyarah, gawi Manuntung, Waja Sampai Kaputing”. Apabila dicermati Perang Banjar yang panjang itu yang dimulai di desa Muning yang dipimpin oleh elit desa, dalam konteks ini dapat dikatagorikan sebagai sebuah gerakan sosial.

Gerakan sosial di muning ini di kenal dengan Gerakan Datu Muning, yang di pimpim oleh seorang yang dahulunya seorang perampok dan pembajak yang disebut Panembahan Muda Aling. Kehadiran Aling sebagai pertanda konflik politik di antara elite politik tradisional berada pada puncaknya. Pertikaian-pertikaian politik pada kerajaan Banjar yang berlangsung lama, membuat terpe­cah-pecah, yang akhimya kerajaan Banjar harus diserahkan kepada Belanda. Sebagaimana diketahui, sejak dahulu masyarakat Banjar tidak pemah bersatu, selalu bertikai dan mudah terpecah belch. Kera­jaan-kerajaan yang dibangun di wilayah yang sekarang disebut Kalimantan Selatan tidak pernah menjadi besar sebagaimana yang terdapat di Jawa. (lebih…)