…dan semua ketakutan yang ada…

Terbaru

banjar bahasaku

banjar bahasaku

eksistensi suatu bangsa ditandai oleh bahasa nya

ungkapan ini seharusnya menjadi cambuk bagi kita urang banjar untuk selalu menjaga dan memelihara bahasa banjar banjar sebagai manifestasi dari upaya mempertahankan identitas diri yang utama bagi suku atau etnis banjar.

Kalau seumpamanya bahasa banjar itu sudah tidak terpakai lagi dalam tata pergaulan sesama urang banjar, karena urang banjar sendiri enggan atau malu menggunakannya dan tergantikan oleh sebuah bahasa lain (bahasa apapun itu), itu berarti pada saat itu eksistensi urang banjar sebagai suatu suku bangsa juga sudah tidak ada lagi dan terhapus dari peta suku bangsa Indonesia.

Maka seyogyanya bahasa-bahasa banjar “prokem” (misal; auk, imak) yang aneh-aneh sudah saatnya dihilangkan, mana lebih manis terdengar bila dibandingkan dengan ulun, pian, andika, kaula, ading, diang, itai, galuh dll. Lebih cantik dan anggun bukan?

Nang kaya apa mun manurut andika…?

“edensor”

“aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan logika, aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku kehidupan yang ujung nya tak dapat disangka” aku ingin hidup yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. aku ingin hidup! merasakan sari pati hidup

never ending de’Jogja

Dalam pertautan nasib, mempertemukan kita dalam simpul-simpul persahabatan, indah dan kemudian tak terbantah. sekali lagi jogja memasung hati, jogja menjadi simbol persahabatan, sebuah ekspresi kebebasan, ha ha tentu sebagai kuliner adventure yang ajiib…

tak cukup banyak diksi kata yang dapat menggambarkan semua yang terasa, entah bagaimana narasi itu akan mengalir dari lidah kelu para pujangga dari segala zaman. untuk sekedar “add memories”
dengan bumbu nativism…

tentu kota ini mempesona, sehingga dari segala raja mencoba bertahta disini…

teman terbaik, yang bukan sekedar sahabat…antara cerita masa kecil sampai pergulatan sensualitas yang terhampar didepan mata dengan istilah “Celana Gemes” terlontar dengan brilian dari prosesor seorang sahabat “AWan CaHYadi”..

hanya persahabatan yang agung

dengan para banjaris yang mengelenda pada waktunya (“aku kira akan selamanya di mata hatiku : andi Fitri, Hj. Imah, Ading AnJar”) trims to everything…to semua birunya persahabatan. banyak lagi lembar cerita yang akan kita susun, seperti detik waktu yang selalu berputar yang menghalusinasi malam. teruslah kita bermimpi, karena tuhan akan memeluk mimpi kita dan merubah jadi nyata. kita tunggu jadi apa kita kelak…..!!!!!!

juga dengan tatapan batu-batu purba yang tersusun diantara mitos yang melindungi, prambanan yang mempesona, atau hanya sekedar mengejar sunset di cakrawala Parang tritis, bahkan dengan secangkir kopi Joss pahit di sudut-sudut kota, (angkringan they call that..)

segalanya yang memikat, segalanya yang membuat kita jatuh cinta dengan nya….(jogja,,saat bersedih meninggalkannya)

entah kenapa hati ini kemudian terbenam disini jogjakarta…

entah bagaimana aku melupakan…dan haruskah aku meninggalkan…kota kenangan

S2 atau dunia Fotographi nantikan aku……

kembali dikota ini jogjakarta

jogjakarta, 17 April 2008

entah kenapa hati ini kemudian terbenam disini jogjakarta…

entah bagaimana aku melupakan…dan haruskah aku meninggalkan…kota kenangan

S2 atau dunia Fotographi nantikan aku……

kembali dikota ini jogjakarta

jogjakarta, 17 April 2008

orang banjar mulai kehilangan identitasnya!!!

kebudayaan memang terlahir dari maindset yang sama dari para masyarakat pendukungnya. menjadi suatu hal yang aneh bila kebudayaan kita sendiri tidak mempunyai pendukung yang kuat, banyak memang kebudayaan kita “banjar” menjadi sangat asing bahkan oleh masyarakat yang seharusnya menjadi pendukung kebudayan ini(orang banjar).

solusinya adalah edukasi yang tersistem rapi, dalam upaya membentuk maindset masyarakat yang bernafas banjarisme tanpa harus menjadi seseorang primordial yang arogan. walaupun sifat primordial saya percaya adalah salah satu benteng kebudayaan yang kokoh.

saat komentar ini dibuat, saya sedang berada di sebuah warnet di Jogjakarta, disini saya sepenuhnya sadar bahwa kita “banjar” mempunyai keunggulan dalam hal komunikasi”bahasa”, yaitu sifat penutur bahasa banjar yang begitu extrovet (terbuka) terhadap bahasa daerah lain, sehingga aliran informasi yang menjadi asupan otak menjadi sangat lancar. hal ini juga seharunya disadari oleh orang banjar lainnya, sehingga dapat mengaktualisasi diri lebih cepat dari budaya manapun.
sekarang tidak ada sebuah alasan untuk menjadi bergerak pelan menuju kemajuan.

“minimal supaya budaya banjar tidak tersindir oleh EWA dengan budaya padang yang ia banggakan”

saatnya budaya banjar harus berperan dalam pembentukan budaya Indonesia yang plural..

PKB dan demokrasi

menyimak pergulatan kepentingan politik di tubuh PKB…ada satu hal yang menarik, yaitu pembuktian bahwa masih ada sosok yang arogan, entah bagaimana indonesia bila dipimpin oleh orang yang arogan..tentu anda tau maksud saya. sulit rasanya berkata iya bila tokoh PKB tersebut dinobatkan sebagai pelopor demokrasi, wong sama aja dengan gaya kepemimpinan saddam…kita perlu pemimpin yang mau diajak diskusi dan pastinya mau dikritik..bukan arogan seperti..DIA